RSS

PERANAN GURU

06 Mei

A. Pandangan Umum Tentang Guru

Bagi bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan, sama halnya dengan kebutuhan papan, sandang, dan pangan. Pendidikan tidak hanya menjadi urusan guru di sekolah namun pendidikan merupakan urusan dan tanggung jawab semua elemen masyarakat bahkan dalam institusi terkecil pun seperti keluarga.
Berbicara tentang pendidikan, terdapat tiga unsur penting di dalamnya, yaitu pendidik, peserta didik dan sistem pendidikan. Tugas dan fungsi utama seorang guru tidak semata-mata hanya untuk mengajarkan apa yang diketahuinya kepada peserta didik secara teoritis, namun lebih jauh dari itu fungsi utama seorang guru sebagaimana yang tercantum pada pasal 1 ayat (1) UU. No. 14 Tahun 2005, yaitu :
a. Pengajar, yaitu guru bertugas dalam memberikan materi pembelajaran di dalam maupun di luar kelas guna peningkatan sumber daya manusia.
b. Pembimbing, yaitu untuk mengarahkan siswa guna terwujudnya generasi bangsa yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
c. Pendidik, tugas guru untuk meyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
d. Pelatih, yaitu guru memberikan latihan ketrampilan dan ketangkasan kepada siswa agar menjadi generasi yang siap akan fisik dan mentalnya.

Selain itu, guru pun disebut sebagai agen pembelajaran (learning agent), yaitu guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik, (penjelasan pasal 4 UU. No. 14 Tahun 2005). Kensekuensi dari pada tugas guru tersebut adalah seorang guru harus memiliki 4 kompetensi utama, yaitu :
1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.
2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
3. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Dengan empat kompetensi tersebut idealnya seorang guru dapat menciptakan generasi yang belum atau kurang siap menjadi generasi yang siap dengan mental dan kepribadian yang baik.

B. Peran Guru dalam Upaya Peningkatan Kualitas Belajar Siswa

Salah satu tugas utama guru adalah pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas, pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan khususnya pada sekolah yang berada di pedesaan atau daerah yang belum tersentuh teknologi pada dasarnya hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan mampu menmbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan.
Dengan diterapkannya Kurikulum 2006 (KTSP), guru tidak lagi hanya sebagai penceramah yang selalu mendokrtrinasi berbagai macam teori kepada siswa. Siswa tidak lagi diperlakukan sebagai objek namun secara utuh mereka merupakan subjek yang siap untuk menyerap berbagai pengalaman melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Guru dan siswa harus menciptakan kelas sebagai suatu keluarga kecil yang mampu memberikan gambaran tentang proses interaksi di dalamnya, dimana siswa lebih berpartisipasi aktif sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada kegiatan guru dalam mengajar.
Penjelasan pasal 4 UU. No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa guru merupakan agen pembelajaran, yaitu guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Penjelasan pasal tersebut memberikan suatu pemahaman kepada kita bahwa, terdapat empat peran penting yang harus dilakukan guru dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas belajar siswa, yaitu :

1. Guru Sebagai Fasilitator
Jika prestasi belajar adalah hasil, maka belajar merupakan prosesnya. Dalam proses itu, siswa akan menemui berbagai rintangan. Di sinilah arti penting fasilitator. Fasilitator adalah orang yang menyediakan fasilitas. Fasilitator dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung kebutuhan siswa (1997:275).
Wina Senjaya, mengatakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Sebagai gambaran dalam ilmu sosial guru dapat memberikan tugas siswa dengan menganalisa fenomena kehidupan sosial yang terjadi pada lingkungannya maupun lingkungan bernegara melalui majalah, koran, televise, internet, dan fenomena kehidupan sosial sehari-hari sehingga siswa akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar dengan pengalaman hidup yang ia geluti

Prof. Dr. Made Pidarta (1997:271) menjelaskan bahwa perilaku-perilaku yang perlu diperhatikan para pendidik sebagai fasilitator adalah sebagai berikut: (1) Pendidik bertindak sebagai mitra; (2) Melaksanakan disiplin yang permisif, ialah memberi kebebasan bertindak asal semua peserta didik aktif belajar; (3) Memberi kebebasan kepada semua peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi mereka masing-masing; (4) Mengembangkan cita-cita riil para peserta didik atas dasar pemahaman mereka tentang diri sendiri; (5) Melayani pengembangan bakat setiap peserta didik; (6) Melakukan dialog atau bertukar pikiran secara kritis dengan peserta didik; (7) Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berkreasi; (8) Mempergunakan metode penemuan; (10) Mempergunakan metode pembuktian.

2. Guru Sebagai Motivator atau Pemacu
MC. Donald dalam Nashar menjelaskan, bahwa “motivasi adalah suatu perbuatan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.” Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai seluruh daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, memberikan, dan menjamin kelangsungan arah kegiatan belajar. Siswa yang tidak mempunyai motivasi tidak mungkin akan melakukan aktifitas belajar.
Motivasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) motivasi intrinsik, adalah sebuah motivasi yang lahir dari diri pribadi seseorang, (2) motivasi ekstrinsik, adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. Sebagai motivator guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa khususnya siswa yang belum memiliki motivasi diri sehingga secara perlahan akan lahir suatu kesadaran dalam dirinya untuk mengantarkannya kepada pintu kesuksesan.
Banyak hal yang dapat dilakukan guru agar siswa selalu termotivasi untuk belajar, antara lain :
1) Menciptakan suasana kelas yang kondusif, situasi belajar yang menyenangkan, dan tidak mudah untuk memarahi siswa.
2) Bersikap simpati kepada siswa sehingga siswa akan merasa bahwa guru adalah pelindung sekaligus orang tua selama berada di sekolah.
3) Menciptakan persaingan yang sehat, memberikan pujian dan sanksi edukatif kepada siswa.
4) Menjadikan lingkungan dan alam sebagai media belajar dengan menunjukkan contoh-contoh konkrit yang berada pada lingkungan hidupnya.
5) Menjanjikan hadiah bagi siswa berprestasi.

Motivasi pun dapat dilakukan guru melalui kerjasama atau koordinasi dengan orang tua. Finn dalam Departemen Agama mengidentifikasi tiga bentuk peran orang tua di rumah yang berhubungan erat dengan peningkatan prestasi anak di sekolah, yaitu : (1) secara efektif mengatur dan memonitor waktu anak; (2) membimbing mereka dalam menyelesaikan pekerjaan rumah; dan (3) mendiskusikan masalah-masalah sekolah dengan anak.

3. Guru Sebagai Perekayasa Pembelajaran

Guru profesional harus memiliki daya kreatifitas yang tinggi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Kondisi pembeajaran yang tidak kondusif dan menegangkan akan melahirkan suatu tekanan psikis dalam diri siswa, yang berdampak pada hilangnya konsentrasi belajar siswa.
Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam merekayasa materi pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK (komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam upaya peningkatan kualitas belajar siswa.
Mengutip pendapat Kemp dan Dayton, La Ode Safihu mengatakan, bahwa manfaat pembelajaran dengan menggunakan media antara lain : (1) mampu memberikan kesan yang mendalam dan tahan lama pada diri siswa, (2) membuat pelajaran yang abstrak menjadi konkrit, dan (3) Meningkatkan kualitas hasil belajar.
Ibrahim (1982:12) mengemukakan, bahwa fungsi atau peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain : (1) dapat menghindari terjadinya verbalisme, (2) membangkitkan minat atau motivasi, (3) menarik perhatian, (4) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, (5) mengaktifkan siswa dalam belajar, dan (6) Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.

4. Guru Sebagai Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan inspirasi atau petunjuk yang baik bagi kemajuan siswa. Guru harus memberikan petunjuk kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik, media apa yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga hal tersebut akan melahirkan sebuah inspirasi dan dalam diri siswa tersebut untuk terus belajar guna meraih prestasi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Latief, 2006. Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung : Pustaka  Bani Quraisy.

Kardi, S.Nur, M.2002. Pengantar Pada Pengajaran dan Pengelolaan Kelas. Surabaya : University Press- UNESA.

————– Pengajaran Langsung. Surabaya : University Press-UNESA.

Nurr, M, Ibrahim, M, Rachmadiarti, F, Ismono. 2000 : Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University-UNESA.

—————           Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya : University-UNESA.

Nur, Muhammad. 2000 : Strategi-strategi belajar. Surabaya : University-UNESA.

Roestiyah N K, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

About these ads
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2012 in Artikel

 

2 responses to “PERANAN GURU

  1. devimutia110@yahoo.co.id

    9 Agustus 2012 at 5:47 am

     
  2. devimutia110@yahoo.co.id

    9 Agustus 2012 at 5:47 am

    ibu ke

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.